Hong Kong tahun 1950-an adalah medan pertarungan bagi Ip Man muda. Di tengah kekacauan kolonial, ia harus mengasah Wing Chun-nya bukan hanya untuk melawan penjajah, tapi juga membela rakyat kecil yang tertindas. Setiap pukulannya adalah perlawanan, setiap gerakan adalah seni bertahan hidup. Ketika geng kriminal dan pasukan asing mengancam, Ip Man berdiri di garis depan—dengan tinju sebagai suaranya.