5. Hanif terbaring di rumah sakit dengan bom yang terpasang di tubuhnya—sebuah alat yang akan meledak jika detak jantungnya berhenti. ATS officer Dewan yakin Hanif berbohong tentang amnesia-nya, sementara atasan memerintahkannya untuk mengeksekusi sang tersangka. Tapi ketika rekan kerjanya, Husna, menemukan bahwa Hanif adalah kunci dari 24 bom lain di kota, waktu hampir habis. Akankah kebenaran terungkap sebelum ledakan memusnahkan segalanya?