Sejak kecil, ia hidup dalam teror di bawah ayahnya yang kejam—hingga kepribadian lain, Alex, muncul sebagai pelindung. Kini, sebagai dewasa dalam terapi, ia menyadari bahwa Alex mungkin bukan sekadar teman, tapi juga pembunuh. Ketika garis antara kenyataan dan ilusi semakin kabur, ia harus memutuskan: