Di tengah dunia di mana kebenaran menjadi target, seorang jurnalis perang legendaris berjuang di garis depan konflik, mengorbankan segalanya untuk menyuarakan penderitaan yang tak terdengar. Setelah kehilangan sebelah matanya, ia terus melangkah dengan keberanian yang nyaris membabi buta, menghadapi diktator dan menenggak martini dengan gaya yang sama memesona. Namun, trauma perlahan menggerogoti jiwanya, dan misi terakhirnya di kota Homs yang terkepung bisa menjadi yang paling mematikan.